menu melayang

Kajian dan Pengembangan


Kamis, 02 Juli 2026

Nabi Sulaiman: Memimpin dengan Kebijaksanaan, Bukan Sekadar Kekuasaan

Bayangkan seorang pemimpin yang memiliki hampir semua hal yang diimpikan manusia.

Ia memimpin kerajaan yang sangat besar. Pasukannya terdiri dari manusia, jin, dan burung. Angin pun tunduk atas izin Allah. Kekayaannya melimpah. Kekuasaannya nyaris tanpa tanding. Dialah Nabi Sulaiman 'alaihissalam.
Namun, yang membuat beliau dikenang sepanjang zaman bukanlah besarnya kerajaan. Bukan pula kemegahan istananya. Yang paling berharga justru adalah cara beliau menggunakan semua anugerah itu.

Suatu hari, ketika pasukan besar Nabi Sulaiman sedang bergerak, terdengarlah seekor semut memperingatkan koloninya agar segera masuk ke sarang supaya tidak terinjak. Mendengar itu, Nabi Sulaiman tidak marah karena dianggap menakutkan. Beliau justru tersenyum, lalu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepadanya. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an, Surah An-Naml ayat 18–19. 

Di sinilah letak pelajaran pertama.
Pemimpin yang bijaksana adalah pemimpin yang mampu mendengar suara yang paling kecil.

Semut tidak memiliki jabatan. Tidak punya kekuasaan. Bahkan ukurannya nyaris tak terlihat. Tetapi Nabi Sulaiman tetap menghargai keberadaannya.

Betapa banyak pemimpin hari ini yang hanya mendengar suara orang-orang besar, sementara jeritan rakyat kecil hilang di tengah gemuruh tepuk tangan.

Kisah lain memperlihatkan kebijaksanaan yang lebih dalam.
Nabi Sulaiman pernah kehilangan burung Hud-hud dari barisan pasukannya. Beliau tidak langsung menghukum. Beliau mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu.

Ternyata burung kecil itu membawa berita penting tentang Negeri Saba' dan Ratu Balqis yang belum mengenal Allah. Dari seekor burung, lahirlah sebuah misi dakwah yang kemudian mengubah sejarah. ([Cahaya Kompas][2])

Pelajaran keduanya sangat indah.
Jangan pernah meremehkan orang kecil. Bisa jadi, solusi besar datang dari mereka yang selama ini tidak diperhitungkan.

Pemimpin yang baik tidak merasa paling tahu. Ia membuka ruang bagi setiap informasi, dari siapa pun datangnya.

Yang paling mengagumkan justru ketika Nabi Sulaiman berada di puncak kejayaan.

Beliau tidak pernah berkata, "Ini semua karena kehebatanku."
Sebaliknya, beliau berdoa,
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu..."

Beliau sadar, kekuasaan hanyalah titipan.
Jabatan hanyalah amanah Kejayaan hanyalah ujian. Karena itulah, semakin tinggi kedudukannya, semakin rendah hatinya.

Di zaman sekarang, kita sering mengukur pemimpin dari seberapa besar kekuasaannya. Padahal Nabi Sulaiman mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Bukan seberapa banyak orang yang tunduk kepada kita. Tetapi seberapa adil kita memperlakukan mereka.

Bukan seberapa luas wilayah yang kita kuasai. Tetapi seberapa besar manfaat yang kita berikan.

Bukan seberapa tinggi jabatan yang kita duduki. Tetapi seberapa rendah hati kita ketika berada di atas.

Inilah rahasia kepemimpinan Nabi Sulaiman.
Beliau tidak memimpin dengan rasa takut.
Beliau memimpin dengan ilmu, hikmah, keadilan, dan rasa syukur.

Mungkin itulah sebabnya Allah mengabadikan kisah beliau dalam Al-Qur'an. Agar setiap orang yang diberi amanah—baik memimpin keluarga, organisasi, lembaga, maupun negara—selalu ingat bahwa kekuasaan bukanlah tujuan.

Kekuasaan hanyalah jalan untuk menghadirkan keadilan. Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa lama seseorang berkuasa, melainkan seberapa bijaksana ia menggunakan kekuasaan itu.

Blog Post

Related Post

Back to Top

Bahasa Arab