menu melayang

Kajian dan Pengembangan


Kamis, 11 Juni 2026

Sebuah Renungan dari Langkah Sederhana Kyai Abdullah

Jumat itu berjalan seperti biasanya. Matahari mulai meninggi, sementara jalan-jalan kecil menuju masjid di lingkungan perkampungan mulai dipenuhi warga yang bergegas memenuhi panggilan Allah.

Di antara mereka, tampak Kyai Abdullah berjalan santai menuju masjid yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
Tidak ada penyambutan khusus. Tidak ada kursi istimewa. Tidak ada persiapan untuk naik ke mimbar. Beliau datang sebagai jamaah.

Beliau mengambil tempat di saf, mendengarkan khutbah dengan tenang, lalu menunaikan shalat Jumat bersama masyarakat sekitar. Setelah itu, beliau menyapa beberapa tetangga, bersalaman, bertukar kabar, dan berbincang ringan sebelum akhirnya pulang.

Pemandangan yang mungkin tampak biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan pelajaran yang luar biasa.

Di zaman ketika banyak orang berlomba ingin tampil, menjadi pusat perhatian, atau dikenal karena kepiawaiannya berbicara, Kyai Abdullah justru memilih menikmati peran yang sering dianggap sederhana: menjadi pendengar.

Beliau pernah berujar bahwa seseorang bisa saja terlalu sibuk berpindah dari satu mimbar ke mimbar lainnya, hingga lupa betapa nikmatnya duduk di hadapan mimbar.

Terlalu sering berbicara, sampai kehilangan kesempatan untuk mendengar. Padahal, mendengar juga merupakan bagian dari adab menuntut ilmu. Bahkan tidak sedikit hikmah yang justru lahir ketika seseorang menenangkan lisannya dan membuka telinganya.

Menjadi jamaah juga menghadirkan pengalaman yang berbeda. Duduk berdampingan dengan masyarakat, merasakan suasana yang sama, mengaminkan doa yang sama, lalu saling bersalaman setelah shalat usai. Dari situ tumbuh rasa memiliki, kedekatan, dan ukhuwah yang tidak selalu bisa dirasakan ketika seseorang terus berada di atas panggung.

Barangkali inilah salah satu makna tawadhu yang sering terlupakan. Bahwa kemuliaan bukan hanya ketika seseorang mampu menyampaikan ilmu, tetapi juga ketika ia bersedia menerima ilmu. Bahwa keberkahan tidak selalu datang saat berdiri di depan banyak orang, melainkan juga ketika ia duduk bersama mereka dengan hati yang lapang.

Kisah sederhana Jumat itu menjadi pengingat bahwa sesekali kita perlu kembali ke posisi paling dasar: menjadi jamaah.

Mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Merenungkan dengan jujur. Lalu pulang dengan hati yang lebih lembut. Sebab bisa jadi, Allah menghadirkan pelajaran paling berharga bukan ketika kita didengar oleh banyak orang, melainkan ketika kita dengan rendah hati bersedia mendengarkan.

Blog Post

Related Post

Back to Top

Bahasa Arab