Seorang pemuda duduk sendirian di sudut kamarnya. Lampu menyala redup. Di hadapannya terbentang berbagai persoalan yang belum juga menemukan jalan keluar. Tagihan yang harus dibayar. Tanggung jawab yang semakin berat. Harapan yang perlahan memudar karena kenyataan tak kunjung berubah.
Ia mencoba menghitung semuanya.
Menghitung uang yang tersisa.
Menghitung peluang yang masih ada.
Menghitung kemampuan yang dimiliki.
Semakin lama ia menghitung, semakin sesak dadanya. Sebab hasil perhitungannya selalu sama.
Masalahnya terlalu besar.
Dirinya terlalu kecil.
Mungkin banyak dari kita pernah berada di posisi yang sama.
Ketika hidup terasa seperti gelombang besar yang datang bertubi-tubi, sementara kita hanya memiliki perahu kecil yang hampir tak mampu bertahan.
Lalu tanpa sadar kita berkata dalam hati,
"Aku tidak sanggup."
Dan memang benar.
Bisa jadi kita memang tidak sanggup.
Namun ada satu hal yang sering terlupakan.
Sejak kapan hidup ini hanya bergantung pada kemampuan kita?
Bayangkan seorang anak kecil yang harus mengangkat beban berat. Jika ia mengandalkan tenaganya sendiri, tentu ia akan menyerah. Tetapi ketika ayahnya datang dan membantu mengangkat beban itu, persoalannya berubah.
Bukan karena bebannya menjadi lebih ringan.
Tetapi karena ada kekuatan yang jauh lebih besar yang ikut menanggungnya.
Begitulah kehidupan seorang mukmin.
Masalah tidak selalu hilang seketika. Kesulitan tidak selalu langsung berakhir. Namun ada kekuatan yang menyertai, ada pertolongan yang bekerja, dan ada kuasa Allah yang tidak pernah dibatasi oleh kelemahan hamba-Nya.
Sayangnya, kita sering melihat masalah hanya dari satu sisi.
Kita melihat besarnya ombak, tetapi lupa bahwa Allah adalah Penguasa lautan.
Kita melihat gelapnya malam, tetapi lupa bahwa Allah yang menerbitkan matahari.
Kita melihat pintu yang tertutup, tetapi lupa bahwa Allah memiliki kunci seluruh pintu yang tidak mampu dibuka manusia.
Dalam sejarah para nabi, hampir semua kisah besar dimulai dari keadaan yang secara logika tampak mustahil.
Nabi Ibrahim menghadapi api yang menyala.
Nabi Musa berada di depan lautan sementara musuh mengejar dari belakang.
Nabi Yunus berada dalam gelapnya perut ikan di tengah lautan.
Jika mereka hanya menghitung kemampuan diri, mungkin harapan sudah berakhir sejak awal.
Namun mereka mengenal Rabb yang tidak pernah terbatas oleh hukum-hukum yang membatasi manusia.
Karena itulah pertolongan datang.
Bukan selalu sesuai waktu yang mereka inginkan, tetapi tepat pada waktu yang Allah tetapkan.
Sering kali Allah tidak langsung mengubah keadaan kita.
Kadang yang pertama kali Allah ubah adalah hati kita.
Dari yang putus asa menjadi yakin.
Dari yang gelisah menjadi tenang.
Dari yang merasa sendirian menjadi sadar bahwa ada Allah yang selalu membersamai.
Dan ketika hati sudah kuat, masalah yang sama pun terasa berbeda.
Bukan karena persoalannya mengecil, tetapi karena keyakinan kepada Allah menjadi lebih besar.
Maka jika hari ini engkau sedang menghadapi persoalan yang terasa terlalu berat, jangan buru-buru menyerah hanya karena kemampuanmu terbatas.
Memang kemampuan manusia ada batasnya.
Tetapi kuasa Allah tidak memiliki batas.
Jangan ukur masa depanmu dengan keadaanmu hari ini.
Jangan ukur harapanmu dengan isi dompetmu.
Jangan ukur jalan keluarmu dengan logikamu semata.
Ukurlah semuanya dengan kebesaran Allah.
Sebab berkali-kali kehidupan membuktikan, ketika manusia berkata, "Tidak mungkin," Allah menunjukkan bahwa segala sesuatu sangat mungkin terjadi jika Dia berkehendak.
Dan ketika kemampuanmu berhenti di satu titik, di sanalah sering kali pertolongan Allah mulai mengambil alih.
Karena itu, jangan ukur masalahmu dengan kemampuanmu.
Ukurlah dengan kuasa Allah. Sebab masalah sebesar apa pun akan selalu tampak kecil di hadapan Dzat Yang Maha Besar.