Allah berfirman: "Janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan kembali benangnya setelah dipintal kuat menjadi tercerai-berai..." (QS. An-Nahl: 92)
Betapa indah sekaligus menyakitkan perumpamaan ini.
Bayangkan seseorang duduk berjam-jam. Dengan sabar ia memintal benang demi benang. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Hingga akhirnya benang itu menjadi kuat, rapi, dan bernilai.
Lalu apa yang terjadi?
Dengan tangannya sendiri ia menguraikan kembali seluruh hasil jerih payahnya.
Tidak ada musuh yang datang menghancurkan.
Tidak ada bencana yang merobohkan.
Tidak ada orang lain yang merusak.
Ia sendiri yang melakukannya.
Dan mungkin itulah tragedi terbesar dalam kehidupan manusia.
Banyak hal yang tidak hancur karena serangan dari luar. Ia hancur karena diurai dari dalam.
Rumah tangga yang dibangun dengan cinta bertahun-tahun bisa retak oleh ego yang tidak terkendali.
Persahabatan yang dijaga puluhan tahun bisa runtuh karena prasangka yang dipelihara.
Organisasi yang dibangun oleh keringat dan air mata para pendahulu bisa pecah karena ambisi segelintir orang.
Bangsa yang diperjuangkan dengan darah para pahlawan bisa melemah karena hilangnya kejujuran dan amanah.
Benang-benang itu tidak putus sendiri.
Ada tangan yang mengurainya.
Dan yang paling menyedihkan, sering kali tangan itu adalah tangan kita sendiri.
Ayat ini sesungguhnya sedang berbicara tentang sesuatu yang sangat mahal: kepercayaan.
Kepercayaan tidak lahir dalam sehari.
Ia tumbuh perlahan.
Dari ketulusan yang berulang.
Dari komitmen yang dijaga.
Dari janji yang ditepati.
Dari pengorbanan yang dilakukan tanpa banyak bicara.
Karena itulah membangun kepercayaan membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Namun menghancurkannya?
Kadang cukup satu keputusan.
Cukup satu pengkhianatan.
Cukup satu kepentingan.
Cukup satu ambisi yang dibiarkan mengalahkan nurani.
Maka ketika Allah melarang manusia menjadi pengurai benang, sesungguhnya Allah sedang mengajarkan etika besar kehidupan:
Jangan rusak apa yang telah dibangun dengan susah payah.
Yang menarik, Allah menyebut:
*"setelah kuat..."
(مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ)
Bukan ketika benang itu masih rapuh.
Bukan ketika bangunan itu masih setengah jadi.
Bukan ketika fondasinya belum kokoh.
Tetapi justru setelah semuanya kuat.
Di sinilah letak ujian yang sesungguhnya.
Membangun memang sulit.
Namun menjaga sering kali jauh lebih sulit.
Banyak orang kuat saat berjuang.
Namun berubah ketika berhasil.
Banyak yang setia ketika membutuhkan.
Namun berpaling ketika memiliki pilihan yang lebih menguntungkan.
Banyak yang tampak tulus ketika belum memiliki kekuasaan.
Namun berubah ketika kekuasaan berada di tangannya.
Karena itu ayat ini bukan hanya berbicara tentang janji.
Ayat ini berbicara tentang integritas.
Tentang kemampuan manusia untuk tetap menjadi dirinya ketika keadaan berubah.
Dalam kehidupan umat, pesan ini terasa semakin penting.
Tidak ada jam'iyyah besar yang lahir dalam semalam.
Tidak ada pesantren yang berdiri hanya dengan satu generasi.
Tidak ada tradisi keilmuan yang tumbuh tanpa pengorbanan.
Di balik setiap lembaga yang kokoh ada orang-orang yang mungkin namanya sudah dilupakan sejarah.
Mereka mengajar tanpa dikenal.
Mereka berjuang tanpa dipuji.
Mereka menanam pohon yang buahnya bahkan tidak sempat mereka nikmati.
Merekalah para pemintal benang itu.
Karena itu ketika kita mewarisi sebuah amanah, sesungguhnya kita sedang menerima hasil pintalan panjang banyak tangan.
Tangan para ulama.
Tangan para guru.
Tangan para pendahulu.
Tangan orang-orang ikhlas yang mungkin tidak pernah tampil di panggung.
Lalu pantaskah kita menguraikan apa yang mereka rajut dengan air mata?
Lebih dalam lagi, para ahli tasawuf mengingatkan bahwa benang itu juga ada di dalam diri kita.
Setiap dzikir adalah satu helai benang.
Setiap sujud adalah satu helai benang.
Setiap amal ikhlas adalah satu helai benang.
Setiap perjuangan melawan hawa nafsu adalah satu helai benang.
Hari demi hari Allah membantu kita memintalnya.
Sedikit demi sedikit.
Hingga hati menjadi lebih lembut.
Hingga jiwa menjadi lebih dekat kepada-Nya. Namun betapa sering manusia tergelincir.
Tahun-tahun panjang membangun keikhlasan dapat rusak oleh beberapa saat mengejar pujian.
Perjalanan panjang menuju Allah dapat terhambat oleh cinta dunia yang diam-diam tumbuh di dalam dada.
Maka ayat ini seakan berbisik kepada setiap jiwa: "Jangan hancurkan dalam satu malam apa yang telah engkau bangun selama bertahun-tahun."
Mungkin itulah sebabnya ayat ini terasa begitu relevan di zaman kita.
Zaman yang begitu mudah memecah dan begitu sulit menyatukan.
Zaman yang begitu cepat menghakimi dan begitu lambat memahami.
Zaman ketika satu unggahan dapat memutus persaudaraan yang dibangun bertahun-tahun.
Zaman ketika perbedaan kecil sering dibesarkan, sementara persamaan yang banyak justru dilupakan.
Padahal tugas orang-orang beriman bukan menjadi pengurai benang.
Tugas mereka adalah menjadi penyambung benang.
Menguatkan yang renggang.
Menyatukan yang tercerai.
Merawat yang mulai rapuh.
Menjaga yang telah diwariskan.
Karena merusak selalu lebih mudah daripada membangun.
Memecah selalu lebih mudah daripada menyatukan.
Mengurai selalu lebih mudah daripada memintal. Dan justru karena itulah Allah memuliakan orang-orang yang memilih tetap menjaga.