Asap kopi hitam mengepul pelan, bercampur obrolan ringan tentang hidup, pekerjaan, dan keadaan zaman yang makin aneh.
Di sudut warung, tiga orang lelaki duduk mengelilingi meja kayu tua.
“Anaknya Pak RT hebat sekarang,” kata salah satu sambil menyeruput kopi.
“Lulusan terbaik. Kerjanya di perusahaan besar.”
“Pintar banget memang,” timpal yang lain kagum.
“Tapi…” lelaki ketiga mengernyit, “kok makin licik ya?”
Mereka tertawa kecil. Tapi setelah itu suasana mendadak hening.
Karena sebenarnya mereka sedang membicarakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar satu orang.
Mereka sedang membicarakan zaman.
Di zaman sekarang, orang pintar jumlahnya semakin banyak. Gelar tinggi ada di mana-mana. Teknologi makin canggih. Data bisa diolah dalam hitungan detik. AI bisa menjawab hampir semua pertanyaan.
Namun anehnya, di saat ilmu berkembang begitu cepat, rasa kemanusiaan justru sering tertinggal.
Orang mudah menghina di media sosial.
Banyak yang tega menipu demi keuntungan.
Ada yang memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi. Ada pula yang menganggap manusia hanya angka statistik dan target bisnis.
Seolah-olah pintar saja sudah cukup. Padahal belum tentu.
Di meja paling ujung warung itu, ada seorang lelaki muda membuka laptop. Pakaiannya rapi. Wajahnya penuh percaya diri.
Ia sedang bicara soal strategi, data, profit, dan pencapaian.
Semua terdengar hebat.
Tapi saat seorang pegawai kecil datang mengeluh tentang gajinya yang belum cukup untuk kebutuhan keluarga, lelaki itu hanya menjawab singkat:
“Itu bukan urusan saya. Yang penting target tercapai.”
Kalimat itu terdengar biasa. Namun dari situlah masalah sering dimulai.
Ketika ilmu tidak lagi dipandu nurani, manusia perlahan berubah dingin.
Logika dipakai untuk membenarkan apa saja. Kepintaran dipakai untuk mengendalikan orang lain.
Jabatan dipakai untuk menekan yang lemah. Dan yang lebih berbahaya, semua itu sering dibungkus dengan kata-kata profesional.
Padahal ilmu seharusnya membuat manusia lebih bijak.
Semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin besar pula rasa tanggung jawabnya kepada sesama.
Karena hakikat ilmu bukan hanya membuat orang sukses. Tapi membuat hidup manusia lain menjadi lebih baik.
Seorang guru pernah berkata:
“Orang cerdas bisa membangun teknologi. Tapi orang bernurani memastikan teknologi itu tidak menghancurkan manusia.”
Kalimat itu sederhana, tapi dalam maknanya. Hari ini dunia tidak kekurangan orang pintar.
Yang mulai langka adalah:
orang yang jujur saat punya kesempatan curang,
orang yang tetap peduli saat punya kuasa,
orang yang tetap rendah hati saat dipuji banyak orang.
Di warung kopi itu, obrolan kembali berjalan.
“Jadi menurutmu apa yang paling penting?” tanya salah satu dari mereka.
Lelaki tua penjaga warung tersenyum sambil menuangkan kopi.
“Pintar itu bagus,” katanya pelan.
“Tapi hati yang baik jauh lebih penting.”
Semua terdiam.
Karena mereka sadar, dunia hari ini mungkin memang dibangun oleh orang-orang cerdas.
Tetapi dunia hanya akan tetap manusiawi jika dijaga oleh orang-orang yang masih punya nurani.
Renungan
Ilmu tanpa nurani hanya melahirkan manusia yang pandai mencari keuntungan.
Namun ilmu yang disertai empati akan melahirkan: keadilan, kebermanfaatan, dan kehidupan yang lebih bermartabat.
Karena pada akhirnya, ukuran terbesar manusia bukan seberapa tinggi ilmunya.
Melainkan seberapa besar manfaat dan kebaikan yang ia berikan untuk sesama.