Pendahuluan: Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah
Puasa Tarwiyah dan Arafah tidak bisa dilepaskan dari keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (10 hari Dzulhijjah).”
Para sahabat bertanya: “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.” Hadis riwayat Sahih al-Bukhari
Karena itu, memperbanyak amal pada hari-hari tersebut—termasuk puasa sunnah—sangat dianjurkan.
1. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)
Apa itu Hari Tarwiyah?
Hari Tarwiyah adalah tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum Arafah. Disebut tarwiyah karena pada masa dahulu jamaah haji mempersiapkan bekal air menuju Mina dan Arafah.
Landasan Puasa Tarwiyah
Perlu disampaikan secara ilmiah bahwa hadis khusus tentang keutamaan puasa Tarwiyah statusnya lemah (dha‘if).
Hadis yang populer:
“Puasa hari Tarwiyah menghapus dosa satu tahun…”
Riwayat ini dinilai lemah oleh banyak ulama hadis. Karena itu, secara akademik tidak tepat menyebut ada hadis shahih khusus tentang fadhilah puasa Tarwiyah.
Namun, para ulama tetap menganjurkannya karena masuk dalam keumuman anjuran amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah, serta riwayat bahwa Nabi ﷺ biasa berpuasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah.
Dari salah seorang istri Nabi ﷺ:
“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa sembilan hari Dzulhijjah…” Hadis riwayat Sunan Abi Dawud dan Musnad Ahmad.
Sebagian ulama menilai sanadnya diperselisihkan, namun banyak fuqaha tetap menjadikannya dasar anjuran.
Kesimpulan Fikih Tarwiyah
Hukum: sunnah (mustahab), bukan sunnah muakkadah khusus.
Dasarnya:
1. Keutamaan 10 hari awal Dzulhijjah.
2. Anjuran memperbanyak amal saleh.
3. Masuk dalam puasa sembilan hari awal Dzulhijjah.
Maka, jika seseorang berpuasa tanggal 8 Dzulhijjah dengan niat puasa sunnah Dzulhijjah/Tarwiyah, itu baik dan berpahala, tetapi jangan meyakini pahala khusus tertentu yang tidak sahih dalilnya.
2. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)
Apa itu Puasa Arafah?
Puasa Arafah dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan wukuf jamaah haji di Padang Arafah.
Landasan Shahih Keutamaan Puasa Arafah
Dari sahabat Abu Qatadah رضي الله عنه:
Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa hari Arafah, maka beliau bersabda:
“Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
Hadis riwayat Sahih Muslim
Inilah dalil paling kuat tentang fadhilah puasa Arafah.
Fadhilah Puasa Arafah
1. Penghapus dosa dua tahun
Satu tahun yang telah lalu. Satu tahun yang akan datang
Penjelasan ulama:
Yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil (shaghair).
Adapun dosa besar tetap membutuhkan:
taubat, penyesalan, meninggalkan maksiat, bertekad tidak mengulanginya.
Dasarnya penjelasan para ulama syarah hadis seperti Syarh Sahih Muslim.
2. Bagian dari hari paling mulia
Hari Arafah termasuk puncak amal pada 10 hari Dzulhijjah. Allah bersumpah:
“Demi yang genap dan yang ganjil”
Sebagian mufassir menafsirkan:
genap = hari Nahr (10 Dzulhijjah),
ganjil = hari Arafah (9 Dzulhijjah).
3. Hari pembebasan dari api neraka
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka daripada hari Arafah.” Hadis riwayat Sahih Muslim
Sisi Fikih Puasa Arafah
A. Hukum puasa Arafah
Sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi orang yang tidak sedang berhaji.
Mayoritas ulama dari mazhab: Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi'i, Mazhab Hanbalimenganjurkannya.
B. Bagaimana hukum bagi orang yang berhaji?
Bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah, makruh berpuasa bila melemahkan fisik.
Dalilnya: Nabi ﷺ ketika wukuf di Arafah tidak berpuasa, bahkan beliau diberi susu lalu meminumnya di hadapan manusia. Riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim
Hikmahnya: agar kuat untuk:wukuf,, zikir, doa, ibadah haji yang berat.
C. Mengikuti tanggal Saudi atau rukyat lokal?
Ini pembahasan fikih kontemporer yang sering muncul.
Ada dua pendapat:
Pendapat 1: mengikuti tanggal negeri masing-masing
Mayoritas fuqaha memandang puasa Arafah mengikuti kalender/rukyah wilayah masing-masing, karena terkait penetapan bulan.
Pendapat 2: mengikuti wukuf di Arafah
Sebagian ulama kontemporer berpandangan puasa Arafah mengikuti momentum jamaah haji sedang wukuf.
Di Indonesia umumnya mengikuti keputusan pemerintah atau ormas masing-masing