Prof. Dr. Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani
Di zaman sekarang, belajar menjadi sesuatu yang sangat mudah. Kajian bisa diakses melalui gawai, kitab dapat diunduh dalam hitungan detik, dan ceramah para ulama tersedia di berbagai platform. Namun kemudahan ini ternyata tidak selalu melahirkan keberkahan ilmu.
Tidak sedikit orang yang semakin banyak mengetahui, tetapi semakin sedikit menghormati. Semakin banyak membaca, tetapi semakin enggan membantu. Semakin aktif berdiskusi, tetapi semakin sulit menerima nasihat.
Nasihat Sayyid Muhammad Al-Maliki mengingatkan kita bahwa murid sejati bukan hanya orang yang duduk mendengarkan pelajaran. Murid adalah orang yang menggabungkan ta'allum (belajar) dan khidmah (pengabdian).
Dahulu para ulama besar tidak hanya sibuk mencatat pelajaran. Mereka membantu guru, melayani kebutuhan majelis, menata sandal jamaah, membersihkan tempat belajar, bahkan menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan ilmu dengan penuh adab. Mereka memahami bahwa ilmu bukan hanya masuk melalui telinga dan mata, tetapi juga melalui kerendahan hati.
Hari ini budaya khidmah mulai memudar. Banyak yang ingin cepat menjadi pembicara, tetapi sedikit yang mau menjadi pelayan umat. Banyak yang ingin dikenal sebagai ahli ilmu, tetapi enggan membantu pekerjaan sederhana yang tidak terlihat orang lain.
Padahal sering kali pintu-pintu keberkahan dibuka bukan karena kecerdasan semata, melainkan karena ketulusan. Ada orang yang ilmunya tidak sebanyak yang lain, tetapi Allah memberikan pengaruh besar dalam hidupnya. Ada yang sederhana, namun nasihatnya menyentuh hati banyak orang. Ada yang tidak terkenal, tetapi hidupnya penuh keberkahan. Salah satu rahasianya adalah khidmah yang ikhlas.
Dalam keluarga, khidmah berarti membantu orang tua tanpa menunggu perintah. Dalam organisasi, khidmah berarti siap bekerja meski tidak mendapat pujian. Dalam majelis ilmu, khidmah berarti ikut menjaga kebersihan, ketertiban, dan keberlangsungan dakwah.
Ketika seseorang belajar sambil berkhidmat, ia sedang melatih dirinya untuk tidak menjadi hamba popularitas. Ia sedang mendidik hatinya agar tetap rendah meski ilmunya bertambah tinggi.
Karena itu, di tengah budaya yang sering mengukur manusia dari jumlah pengikut, gelar, dan penampilan, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah selama ini kita hanya menjadi pencari ilmu, atau sudah menjadi pelayan ilmu?
Sebab bisa jadi Allah membuka pintu-pintu kebaikan yang selama ini kita cari bukan melalui apa yang kita ketahui, tetapi melalui apa yang dengan tulus kita lakukan untuk melayani agama-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita murid yang tidak hanya pandai belajar, tetapi juga ringan berkhidmat, sehingga ilmu yang kita peroleh menjadi ilmu yang bermanfaat, berkah, dan mengantarkan kepada keridhaan-Nya. Aamiin.