menu melayang

Rabu, 03 Juni 2026

Melepas Ke-AKU-an

"Yang paling berat untuk dilepaskan sering kali bukan harta, jabatan, atau pujian, tetapi ke-AKU-an."
Dalam perjalanan hidup, banyak kegelisahan muncul ketika segala sesuatu selalu dikaitkan dengan "aku".
* Aku yang paling benar.
* Aku yang paling berjasa.
* Aku yang paling terluka.
* Aku yang paling tahu.
* Aku yang harus dihargai.
Ketika "aku" menjadi pusat segala hal, hati mudah kecewa. Sedikit kritik terasa menyakitkan. Sedikit pengabaian terasa merendahkan. Sedikit keberhasilan orang lain terasa mengancam.
Padahal, semakin besar ke-AKU-an, semakin sempit ruang bagi ketenangan.
Allah mengajarkan bahwa manusia hanyalah hamba. Kita berusaha, tetapi Allah yang menentukan. Kita merencanakan, tetapi Allah yang mengatur. Kita memiliki, tetapi semuanya hanyalah titipan.
Saat seseorang mulai mengurangi ke-AKU-an, ia akan lebih mudah berkata:
"Ini bukan tentang aku, tetapi tentang amanah."
"Ini bukan tentang pengakuan, tetapi tentang kebermanfaatan."
"Ini bukan tentang kehendakku, tetapi tentang ridha Allah."
Melepas ke-AKU-an bukan berarti kehilangan jati diri. Justru sebaliknya, kita menemukan posisi yang sebenarnya: sebagai hamba yang bergantung kepada-Nya.
Pohon yang berbuah lebat tidak meninggikan dirinya. Ia justru semakin merunduk. Demikian pula manusia yang semakin matang jiwanya; semakin banyak ilmu, pengalaman, dan amalnya, semakin rendah hatinya.
Hari ini, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Berapa banyak keputusan yang kuambil demi gengsi?
Berapa banyak kebaikan yang kulakukan demi pujian?
Berapa banyak kekecewaan yang lahir karena egoku terluka?
Mungkin ketenangan yang kita cari selama ini tidak datang karena mendapatkan lebih banyak, tetapi karena bersedia melepaskan sedikit demi sedikit ke-AKU-an dalam diri.
Sebab saat "aku" mengecil, ruang untuk Allah menjadi lebih besar. Dan ketika Allah menjadi pusat hidup, hati menemukan kedamaian yang sesungguhnya.

"Ya Allah, jauhkan kami dari kesombongan yang tersembunyi dalam keakuan. Ajarkan kami untuk ikhlas dalam beramal, rendah hati dalam bergaul, dan ridha atas segala ketentuan-Mu." Aamiin.

Blog Post

Related Post

Back to Top

Cari Artikel