menu melayang

Kajian dan Pengembangan


Senin, 15 Juni 2026

Dulu Mencari Guru, Kini Menunggu FYP

Refleksi tentang Cara Kita Mencari Kebenaran di Era Algoritma
Pernahkah kita menyadari bahwa cara manusia mencari ilmu telah berubah begitu drastis?
Dahulu, seseorang rela menempuh perjalanan berhari-hari demi bertemu seorang guru. Ia duduk dengan penuh adab, mendengarkan, mencatat, bertanya, lalu mengamalkan apa yang dipelajarinya. Ilmu bukan sekadar informasi, tetapi cahaya yang berpindah dari hati seorang guru ke hati muridnya. Hari ini, semua itu dapat diperoleh hanya dengan beberapa sentuhan jari.

Ketika ingin mengetahui hukum suatu masalah, kita membuka media sosial. Saat mencari nasihat kehidupan, kita mengetik kata kunci di kolom pencarian. Ketika ingin memahami agama, kita menunggu video yang muncul di beranda. Tanpa disadari, kita telah berpindah dari budaya mencari guru menjadi budaya menunggu FYP.

Tidak ada yang salah dengan teknologi. Media sosial bahkan bisa menjadi sarana dakwah yang luar biasa. Banyak kajian, kitab, dan nasihat ulama yang kini lebih mudah diakses daripada masa-masa sebelumnya.Namun persoalannya bukan pada teknologinya.

Persoalannya adalah ketika kita mulai menyerahkan proses belajar kepada algoritma.
Algoritma tidak mengenal siapa yang paling alim. Ia tidak mengetahui siapa yang paling wara', paling mendalam ilmunya, atau paling lurus sanad keilmuannya. Algoritma hanya bekerja berdasarkan apa yang menarik perhatian, membuat orang berhenti menonton, memberi komentar, atau membagikan konten.

Karena itu, yang paling sering muncul belum tentu yang paling benar. Yang paling viral belum tentu yang paling dalam ilmunya. Yang paling ramai diperbincangkan belum tentu yang paling layak dijadikan rujukan. Di sinilah tantangan besar umat Islam hari ini.

Banyak orang mengenal potongan-potongan ilmu, tetapi kehilangan bimbingan. Mengenal banyak ustaz di layar, tetapi tidak memiliki guru yang benar-benar membimbingnya. Mendengar banyak nasihat, tetapi jarang memiliki majelis yang membentuk adab dan akhlaknya.

Padahal para ulama terdahulu selalu menekankan bahwa ilmu tidak hanya dilihat dari **apa yang dipelajari**, tetapi juga dari **siapa ilmu itu diambil**.

Sebab ilmu agama bukan sekadar pengetahuan. Ia adalah warisan para nabi yang dijaga melalui sanad, adab, dan proses pembelajaran yang panjang.

Fenomena ini semakin terasa di tengah kehidupan modern. Banyak orang merasa cukup belajar dari potongan video satu menit. Merasa telah memahami persoalan yang rumit hanya karena menonton beberapa konten singkat. Bahkan tidak sedikit yang lebih percaya kepada pendapat seorang kreator yang sering muncul di beranda dibanding nasihat ulama yang telah menghabiskan puluhan tahun mendalami ilmu.

Akibatnya, kita hidup di zaman yang penuh informasi, tetapi sering kali miskin kedalaman.

Kita mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu memahami. Kita mendengar banyak suara, tetapi belum tentu mendengar kebenaran. Karena itu, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Ketika menghadapi persoalan agama, kepada siapa sebenarnya kita belajar?
Apakah kepada guru yang memiliki ilmu, adab, dan sanad yang jelas? Ataukah kepada algoritma yang hanya memilihkan apa yang paling sering kita tonton?

Media sosial boleh menjadi jalan menuju ilmu. Namun ia tidak boleh menggantikan posisi guru.

Video dapat menjadi pintu masuk. Tetapi pintu masuk bukanlah tujuan akhir. Sebab sejak dahulu hingga hari ini, keberkahan ilmu tetap lahir dari kedekatan dengan para pewaris nabi: para ulama dan guru yang membimbing umat menuju Allah.

"Jangan sampai kita sibuk mencari ilmu, tetapi lupa mencari siapa yang membimbing ilmu itu kepada kita."

Di tengah derasnya arus informasi, semoga kita tidak kehilangan arah. Semoga teknologi menjadi alat yang mendekatkan kita kepada para ulama, bukan justru menjauhkan kita dari mereka. Karena dahulu orang mencari guru untuk menemukan kebenaran. Jangan sampai hari ini kita menyerahkan pencarian kebenaran hanya kepada apa yang dipilihkan oleh FYP.

Blog Post

Related Post

Back to Top

Bahasa Arab