“Toxic positivity” maksudnya sikap memaksa diri sendiri atau orang lain untuk selalu positif, sampai-sampai perasaan sedih, kecewa, marah, atau lelah dianggap tidak boleh muncul.
Jadi bukan positifnya yang salah, tetapi ketika “harus selalu positif” itu membuat emosi nyata diabaikan.
Contoh:
- Ada orang curhat capek → dijawab: “Kurang bersyukur aja.”
- Ada yang sedih kehilangan → “Udah, jangan sedih terus. Ikhlasin.”
- Ada yang stres → “Positive thinking dong.”
Kalimat seperti itu kadang terdengar baik, tapi bisa membuat orang merasa:
- tidak dipahami,
- tidak boleh sedih,
- atau merasa bersalah karena punya emosi negatif.
Padahal dalam kondisi tertentu, sedih, kecewa, takut, atau marah itu wajar.
Bedanya:
- Positivity sehat:
“Memang berat, tapi semoga pelan-pelan membaik.”
- Toxic positivity:
“Jangan sedih! Harus semangat terus!”
Intinya, toxic positivity adalah “kepositifan yang berlebihan sampai menolak realita emosi manusia.”
Mengatasi toxic positivity bukan berarti jadi pesimis, tetapi belajar lebih jujur dan seimbang terhadap emosi.
Beberapa cara yang bisa dilakukan:
1. Akui emosi yang dirasakan
Kalau memang sedih, kecewa, capek, atau marah — akui dulu.
Tidak semua perasaan harus langsung “diperbaiki”.
Contoh:
- “Saya lagi kecewa.”
- “Saya memang capek sekarang.”
Itu lebih sehat daripada memaksa:
- “Saya harus kuat.”
- “Saya nggak boleh sedih.”
2. Bedakan menerima emosi dengan menyerah
Menerima rasa sedih bukan berarti kalah.
Justru itu langkah awal supaya emosi bisa diproses dengan benar.
3. Hindari kalimat yang menekan diri sendiri
Kurangi:
- “Aku harus selalu bahagia.”
- “Aku nggak boleh lemah.”
Ganti dengan:
- “Saya manusia, wajar kalau lelah.”
- “Saya bisa pelan-pelan menghadapi ini.”
4. Cari teman yang bisa mendengarkan, bukan hanya memberi nasihat
Kadang orang tidak butuh solusi cepat.
Mereka hanya ingin dipahami.
5. Belajar memberi respons yang valid ke orang lain. Daripada:
“Santai aja.” “Jangan overthinking.”
Coba:
“Pasti berat ya.” “Saya ngerti kenapa kamu kepikiran.”
6. Batasi konsumsi konten “harus selalu bahagia”
Media sosial sering menampilkan hidup yang terlihat sempurna.
Kalau terus dibandingkan, orang bisa merasa emosi negatif itu salah.
7. Fokus pada coping yang sehat
Misalnya:
- istirahat cukup,
- journaling,
- olahraga,
- doa,
- ngobrol,
- atau konsultasi profesional bila diperlukan.
Dalam banyak keadaan, ketenangan bukan muncul karena kita menolak emosi negatif, tapi karena kita mampu menghadapi emosi itu dengan sehat.